
Terlalu pelik membicarakan agama. Sedangkan iman masih terombang – ambing oleh nikmat dunia. Menyoal agama hanya akan membawa saya semakin jauh ke dalam jurang kemunafikan. Banyak bicara tanpa mengamalkannya. Hanya sebatas ibadah kaum jelata, manusia awam dimata sang Tuhan. Bukan seperti para pemikir ulung, berdebat, berorasi, ber-filsafat hingga Tuhan hendak dilawan.
Tak tahu batasan halal dan haram yang kian melebar atau malah dipersempit. Ini halal dan itu haram. Hampir tiada berbeda ketika kedua hal tersebut mulai dijajaki kepentingan segerombolan manusia yang mengatasnamakan Tuhan. Ya, semua atas nama agama, atas nama Tuhan. Semakin muak mendengar para politisi berlomba – lomba meneriakkan kata “rakyat” hingga serak suara, hingga habis harta mereka.
Semua hanya berdasar teori-teori, entah itu agama atau yang lainnya. Apalagi ketika penindasan tak berperikemanusiaan mengatasnamakan agama, atas nama Tuhan, teori surga dan neraka jadi pijakan agung bagi mereka. Atau lebih baik tak ber-Tuhan, dari pada menindas mengatasnamakan Tuhan?. Atau ber-Tuhan tanpa beragama?
Ah…, Saya semakin bingung. Mengapa semua menyoal agama?
Semua hanya berdasar teori-teori, entah itu agama atau yang lainnya. Apalagi ketika penindasan tak berperikemanusiaan mengatasnamakan agama, atas nama Tuhan, teori surga dan neraka jadi pijakan agung bagi mereka. Atau lebih baik tak ber-Tuhan, dari pada menindas mengatasnamakan Tuhan?. Atau ber-Tuhan tanpa beragama?
Ah…, Saya semakin bingung. Mengapa semua menyoal agama?





karena agama adalah keyakinan yang menjadi pedoman hidup kita
BalasHapus