
Ujian Nasional (UN) telah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu. Kecurangan dan segala bentuk penyelewengan turut andil mewarnai hajatan besar dunia pendidikan tersebut. Bukan hanya siswa; guru dan pelaku pendidikan yang lain pun ikut berperan dalam tindakan penyelewengan tersebut. Ah, itulah sebagian kecil potret buram dunia pendidikan tanah air.
Yang tak kalah mendebarkan adalah ketika menanti waktu pengumuman kelulusan. Bagi mereka yang lulus, itu merupakan sebuah anugrah yang luar biasa meski kadang untuk mendapatkannya melalui jalan yang tidak jujur. Sangat berbeda dengan mereka yang dinyatakan tidak lulus. Kiamat sughro seakan menghampiri mereka, aib dan beban psikologis tentunya turut menyesaki pikiran mereka. Meskipun belum tentu mereka yang tidak lulus adalah siswa – siswi yang minim pretasi di sekolah. Lagi-lagi anak didik menjadi korban ranah pendidikan kita.
LULUS merupakan predikat yang sangat didambakan oleh siswa kelas 3. Seakan kelulusan tersebut adalah sebuah angin segar kebebasan yang turun langsung dari langit. Konvoi dengan kendaraan bermotor dan corat – coret dengan berbagai macam dan warna cat adalah ritual yang dihukumi wajib bagi mereka. Bukan hanya itu, minuman keras, tindakan anarkis, tawuran dan juga tindakan asusila merupakan pemandangan yang tak terlalu aneh bagi kita saat pengumuman kelulusan tiba.
Meski dari pihak terkait (Dinas Pendidikan, Sekolah dan Kepolisian) telah mewanti - wanti agar moment kelulusan ini tidak diapresiasikan dengan hal - hal yang cenderung negatif, namun pesta tahunan anak SMA ini tiap tahun selalu marak, baik di kota besar maupun kecil. Larangan untuk konvoi dan corat - coret baju seragam seakan hanya dianggap angin lalu atau bahkan tak digubris sama sekali.
LULUS merupakan predikat yang sangat didambakan oleh siswa kelas 3. Seakan kelulusan tersebut adalah sebuah angin segar kebebasan yang turun langsung dari langit. Konvoi dengan kendaraan bermotor dan corat – coret dengan berbagai macam dan warna cat adalah ritual yang dihukumi wajib bagi mereka. Bukan hanya itu, minuman keras, tindakan anarkis, tawuran dan juga tindakan asusila merupakan pemandangan yang tak terlalu aneh bagi kita saat pengumuman kelulusan tiba.
Meski dari pihak terkait (Dinas Pendidikan, Sekolah dan Kepolisian) telah mewanti - wanti agar moment kelulusan ini tidak diapresiasikan dengan hal - hal yang cenderung negatif, namun pesta tahunan anak SMA ini tiap tahun selalu marak, baik di kota besar maupun kecil. Larangan untuk konvoi dan corat - coret baju seragam seakan hanya dianggap angin lalu atau bahkan tak digubris sama sekali.





lulus saatnya besyukur, bukan hura-hura.
BalasHapushura-hura boleh, tapi sewajarnya saja he..he.. ;)
aku kapan lulusan ya?
BalasHapusmungkin itu sebagai wujud ekspresi setelah beberapa waktu lamanya mereka harus menunggu hasil perjuangannya. maka, begitu diumumkan, seperti bisul yang pecah, hehe .... asalkan ndak sampai mengganggu ketertiban umum dan bertindak konyol, eforia semacam itu masih bisa ditolerir kok, mas ircham.
BalasHapusitu karena negeri ini masih berorientasi pada hasil, bukan pada proses, sehingga menunggu kelulusan ibarat mengundi dua sisi mata uang.
BalasHapusjadi wajar jika mereka melampiaskan kegembiraan setelah menang perjudian itu.
pada jamanku dulu, perjalanan selama sekolah sudah bisa dijadikan acuan kita akan lulus atau tidak, jadi tidak ada hal yang luar biasa pada saat pengumuman kelulusan...
tadi baru aja lewat kampusku. gek kapan ya aku bisa konvoi seperti itu?
BalasHapusekpresi syukur yang salah, semoga tidak kelewat batas.
BalasHapusKenapa selalu dengan cara begitu merayakannya..ya...
BalasHapussip kui.. lanjutkan..
BalasHapuseh sampean ndisek yo ngono kui yo mas?
aku mbesu pye yo?
@arifudin; kalo sampek konvoi sampe' sekarang masih dianggap wajar.... jangan2 tawuran, minuman keras, dan asusila suatu saat nanti juga dianggap wajar ni.... hhhmmnn....
BalasHapus@Dum ; lebih cepat lebik baik....
@sawali tuhusetya ; kalo konvoi kira2 menggangggu ketertiban umum gak pak ya....
@~noe~ ; semoga semua sadar akan hal ini....
@dee ; ya sak sire mas dee; mau konvoi sekarang atau lusa monggo-monggo saja..... tapi sendirian waea...hehehehe
@ petrukmoroto ; semoga mas.....
@ Deni ; mungkin karena tradisi mas....
@jidat ; saya gak begitu dulu, gak ikut2an konvoi, sampean mbesuk ojo konvoi pake motor, tapi pake pesawat terbang.... hehehehe...
tradisi yg ga kreatif, monoton, aku ga ikutan waktu itu
BalasHapusjadi pengen sma lagi
BalasHapus@sugiman ; kreatif... kok monoton... jadi bingung,,,,
BalasHapus@suwung ; mending dari TK lagi Wungg,,,, biar tambah soewoeng.. heheheh
kelihatannya sudah budaya tahunan mas...
BalasHapusBudaya orang setres......
BalasHapussusah untuk menghilangkan budaya kelulusan seperti yang sudah ada.
BalasHapuskesenangan sesaat tapi masih banyak rintangan menghadang di depan.
@sof ; bukan -kelihatannya- tapi emang iya sob...
BalasHapus@Bawor ; berarti kalo orang stress itu konvoi ya.... sambil corat-coret.??
@aprie ;' mereka belum sadar mas....