
Masa Orientasi Siswa (MOS) bukanlah hal yang terlalu aneh untuk diulas lagi ketika kembali memakan korban nyawa. Seperti diberitakan Kompas.com , Roy (bukan Roy Suryo; tentunya) siswa baru di SMAN 16 Surabaya meninggal dunia pada hari terakhir MOS. Meski penyebab kematian Roy masih dalam proses penyelidikan, tentunya opini kita telah tergiring untuk memaknai bahwa MOS adalah suatu ritual yang tak penting lagi bagi sebuah intitusi pendidikan jika selalu dibarengi dengan jatuhnya korban.
Pada dasarnya, MOS diselenggarakan sebagai kegiatan untuk memperkenalkan siswa baru terhadap sekolah. Namun, ternyata tujuan utama yang sebenarnya bagus itu kadang diselewengkan menjadi suatu ajang perploncoan dengan menerapkan sistem militer yang selalu mengedepankan kekerasan fisik yang akan berdampak pada psikologi para pesertanya.
Kejadian yang baru saja terjadi di SMAN 16 Surabaya bukanlah kejadian yang pertama kali mencoreng kegiatan tahunan itu. Entah, telah berapa kali MOS selalu menelan korban jiwa. Meski penyebab setiap kematian peserta MOS sangat beragam, ada karena hukuman fisik, kecapekan, atau memang penyakit bawaan sejak lahir tentunya bisa dijadikan bahan koreksi untuk penyelenggarakan MOS.
Saya sendiri bukanlah bagian dari mereka yang mengecam adanya MOS, tapi saya juga bukan termasuk dari mereka yang men-dewa-kan MOS sebagai satu-satunya jalan untuk memperkenalkan sekolah kepada siswa baru. Jika MOS dikemas dengan sangat apik dan tidak keluar dari tujuan utamanya yaitu memperkenalkan sekolah beserta komponen yang ada didalamnya bagi saya sah – sah saja. Namun ketika MOS tersebut telah dijadikan ajang balas dendam tahunan oleh senior kepada juniornya maka akan lebih bijaksana jika MOS tersebut dibekukan.
Peran aktif guru dalam penyelenggaraan MOS sangat diharapkan untuk bisa menghindari jatuhnya korban yang disebabkan oleh kekerasan fisik yang dilakukan oleh para kakak kelas. Senioritas yang dimaknai sebagai kewenangan untuk menghukum perlu diluruskan sebagai sebuah kewenangan untuk mendidik junior dan memperkenalkan identitas sekolah kepada siswa baru. Bukankah begitu?
Kejadian yang baru saja terjadi di SMAN 16 Surabaya bukanlah kejadian yang pertama kali mencoreng kegiatan tahunan itu. Entah, telah berapa kali MOS selalu menelan korban jiwa. Meski penyebab setiap kematian peserta MOS sangat beragam, ada karena hukuman fisik, kecapekan, atau memang penyakit bawaan sejak lahir tentunya bisa dijadikan bahan koreksi untuk penyelenggarakan MOS.
Saya sendiri bukanlah bagian dari mereka yang mengecam adanya MOS, tapi saya juga bukan termasuk dari mereka yang men-dewa-kan MOS sebagai satu-satunya jalan untuk memperkenalkan sekolah kepada siswa baru. Jika MOS dikemas dengan sangat apik dan tidak keluar dari tujuan utamanya yaitu memperkenalkan sekolah beserta komponen yang ada didalamnya bagi saya sah – sah saja. Namun ketika MOS tersebut telah dijadikan ajang balas dendam tahunan oleh senior kepada juniornya maka akan lebih bijaksana jika MOS tersebut dibekukan.
Peran aktif guru dalam penyelenggaraan MOS sangat diharapkan untuk bisa menghindari jatuhnya korban yang disebabkan oleh kekerasan fisik yang dilakukan oleh para kakak kelas. Senioritas yang dimaknai sebagai kewenangan untuk menghukum perlu diluruskan sebagai sebuah kewenangan untuk mendidik junior dan memperkenalkan identitas sekolah kepada siswa baru. Bukankah begitu?





Betul mas... MOS sering diselewengkan dari tujuan utamanya dikarenakan kurangnya pengawasan dari pihak2 yang berwenang disekolah... salam kenal pak
BalasHapusturut prihatin saja....
BalasHapusasalkan tujuannya masih untuk pendidikan rasanya masih penting kecuali sudah jauh dari tujuanpendidikan ya ndak perlu
BalasHapusjadi teringat masalah ITPDN dulu... eee.. apa sii lupa..?!?!? salam kenal en salam hangat selalu :)
BalasHapusMOS memang perlu, tapi tidak dengan hukuman2 fisik. Sedih juga baca berita kemarin ada yang mati ketika MOS.
BalasHapusPerlu juga sih untuk mengenal sekolah barunya, tapi ga usah ada perpeloncoannya
BalasHapuskalo menurut saya masih harus perlu, hanya caranya saja rada di kurangin masalah pisiknya
BalasHapusmelatih dispilin dan mental siswa baru, emang sangat perlu.Tapi kalau sampai ke tindak kriminal seperti itu, perlu di hentikan.Ikut prihatin.Btw,Thanks kunjungannya. saya link ya bro.
BalasHapusPerlu di adakan MOS, but kegiatanya itu lho yang harus di ubah ke arah yang lebih positif.
BalasHapusMOS (Masa Orientasi Sekolah) sebaiknya lebih 'memperkenalkan' sekolahnya daripada dengan cara seperti itu, meskipun saya juga dulu sempet ngalamin tapi engga efektif.. tetep aja bolos juga.. hueheheh
BalasHapusHm kalau mos masih ada, Semua guru-guru harus benar-benar mengawasi dengan ketat, sehingga kejadian tak diinginkan takan terulang, Denagn begitu mos akan lebih santai dan menyenangkan
BalasHapusSangat perlu sekali kang
BalasHapusdiubah...diajak nge blog aja mos nya:D
BalasHapusdoh, menyedihkan juga, mas ircham. saya tahu dari TV. kalau memang kematiannya disebabkan kegiatan MOS, agaknya ada yang ndak beres, tuh. setahu saya, MOS itu bukan perploncoan yang sering dijadikan ajang balas dendam dari senior kepada yunior. tapi utk memberikan bekal eiyatamandala dan aktivitas2 positif lainnya.
BalasHapus@mazblend ; semoga pihak sekolah segera tanggap...
BalasHapus@unting ; --melok2--
@achmad sholeh ; semoga MOS selalu dalam tujuan pendidikan yang sebenarnya...
@genial; ouw... salam hangat juga
@Seno ; MOS tanpa hukuman fisikk?? semoga segera terwujud...
@Taktiku; kalo disekolah ku dulu, namanya PEKAN PERKENALAN, tiap hari isinya ceramah tok...
@nyegik; bukan hanya dikurangi mas, kalo bisa dihapus, hehehehe,
@AISHALIFE-LINE ; monggo, gratis kok, hehehehe
@elvigto ; inginya begitu mas...
@nara; sama boz...
@Balisugar; semoga ada guru yang mbaca...
@Pencerah ; asal gak neko2 ya....
@cebong ipiet; hahahahaha, bisa ditindak lanjuti usulannya...
@sawali tuhusetya; semoga bisa terlaksana pak...
MOS kalau untuk pengenalan wiyata mandala dan pengelanan P4 itu perlu. tpi kl untuk ajang 'tendang2an' harus segera dihapuskan
BalasHapus