Senin, 13 Juli 2009

Terima Kasih Kawan

-

Tak lebih dari sebelas orang termasuk saya yang hadir pada pertemuan terbatas itu. Memang begitu sulit untuk menghadirkan orang-orang yang sibuk seperti mereka, apalagi pada waktu pagi hari. Selaku pembimbing saya dibuat pusing oleh aktifitas pribadi mereka. Seakan tak ada waktu untuk bisa bertatap muka bersama. Meski sedikit, setidaknya mereka sudah mewakili dari anggota – anggota yang lain yang kini berhalangan hadir. Pada selembar tikar lipat yang sengaja digelar di ruang kantor itu kami memulai rapat dengan mengkiaskan kesuksesan kegiatan beberapa waktu yang lalu.



Mungkin, mereka yang hadir itu sudah mampu menebak apa yang akan saya perbuat kepada mereka. Ya, evaluasi, begitulah saya menyebutnya. Tapi bagi mereka itu bukan hanya sekedar evaluasi melainkan sebuah luapan amarah yang siap ditimpakan kepada mereka yang hadir, mereka yang dulu jadi panitia. Memang, masing – masing punya opini sendiri tentang makna evaluasi yang sering kami lakukan. Ada yang begitu antusias karena baginya ia mendapat pencerahan baru. Namun ada juga yang acuh tak acuh atau bahkan cuek hingga sangat benci dengan sebuah ritual yang kami sebut evaluasi ini.

“ …Sudah hampir sebulan kegiatan itu dilaksanakan, kesuksesan masih memihak kepada kita, kita patut bersyukur. Meski dengan jumlah panitia yang sangat minim kita masih bisa bekerja dengan lumayan. Namun, tanggung jawab panitia bukan hanya mengantarkan kegiatan hingga sukses… “


Mereka yang telah memprediksi apa yang akan terjadi pada diri mereka hari ini pasti mampu menebak kemana arah rangkaian kata-kata tadi. Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) yang sampai kini belum jadi atau bahkan belum mulai dibuat pastinya akan jadi boomerang bagi mereka. Itu yang saya tunggu – tunggu sampai sekarang. Padahal dulu mereka menyanggupi dalam waktu dua minggu laporan itu siap untuk dibacakan di depan seluruh panitia dan Pengurus Yayasan. Dan kemudian panitia dibubarkan. Namun, hingga kini laporan itu belum ada.

“… Inikah profesionalitas yang dulu kalian gembar - gemborkan itu?, Inikah tanggung jawab yang pernah kalian janjikan itu?..."


Dengan nada tinggi kalimat tersebut terlontar bebas, seakan menampar mereka dan meninggalkan bekas memerah yang saya pun berharap itu menjadi awal ditepatinya janji mereka, tanggung jawab mereka.

Tak ada satupun dari mereka yang coba mengangkat kepala, semua menunduk, hanya sesekali tatapan mata mereka terarah pada jam dinding yang terpasang disudut ruangan ini. Mungkin mereka mencoba menghitung berapa lama mereka diisolasi dalam ruang yang rasanya kian pengap karena panasnya udara musim kemarau yang baru saja mengubah cuaca. Dan pastinya mereka menginginkan ini segera usai. Segera pulang, meski dengan janji baru yang harus mereka tepati. Seminggu lagi laporan itu selesai.

Sayapun meyakini bahwa tak ada seorangpun yang bisa sempurna dalam segala hal. Apalagi ketika mereka disatukan dalam sebuah komunitas baru yang biasa disebut panitia. Kelebihan yang ada diri mereka selalu diikuti dengan kelemahan masing – masing. Dan karena itu mereka harus saling melengkapi dalam kapasitasnya sebagai panitia. Entah berapa kali saya harus marah, berteriak, atau bahkan meng-goblok-kan orang lain meski saya sendiri sadar bahwa diri ini masih begitu bodoh sebelum dikatakan pintar.

Terlepas dari semua itu, mereka memiliki kemampuan yang sama sekali tak pernah saya duga. Kreatifitas yang sebelumnya saya ragukan itu tiba-tiba muncul ketika semua berada diujung jalan buntu. Inisiatif yang kemudian mereka tuangkan dalam berbagai alternatif itulah yang kemudian membuat saya harus bangga terhadap mereka. Dana yang sebelumnya kurang, terbatasnya ruang dan waktu kegiatan, serta bentuk dan macam kegiatan yang sebelumnya sangat monoton dan minim kreatifitas itu mereka sihir menjadi sebuah dunia baru dengan proses yang sangat instant.

Ide – ide yang sangat brilliant muncul dari pemikiran mereka ketika tanggung jawab kepanitiaan saya lepas semua. Luar biasa (bagi saya) dalam waktu persiapan yang sangat terbatas mereka mampu menciptakan sebuah inovasi baru untuk mengisi liburan santri tahun ini. Bahkan, pujian dan sanjungan tak henti mengalir ketika kegiatan itu usai. Memang bagus, kreatif, menghibur dan mendidik hingga mampu meng-hidupkan suasana kampung yang sepi.

Terima Kasih Kawan...
Selamat Berjuang...

Catatan Sawali Tuhusetya

MetaMARSphose

  • Gatal Garuk - Hampir semua kita pernah merasakan rasa yang dinamakan gatal, dan hampir semua kita pernah melakukan aktifitas yang disebut garuk, karena garuk adalah pert...

WAKTU

PENGUNJUNG

Counters

BLOG LINK

KOTAK PESAN

 
R - CHAM © 2008 All right reserved │ Powered By BLOGGER